Sejarah Desa Rowolaku

Dahulu kala awal mulanya wilayah Desa Rowolaku banyak  terdapat sumber-sumber air yang berupa kedung/rawa, airnya jernih tidak habis meskipun musim kemarau. Salah satu kedung/rawa yang terkenal adalah Rawa Rinjing yang terletak di wilayah RT 04/02. Banyak masyarakat yang memanfaatkan air di rawa-rawa tersebut untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terutama pada musim kemarau. Pada masa penyebaran Islam oleh Wali Songo di tanah Jawa, sampailah salah satu tokoh Islam bernama Mbah Ky. Zakaria yang berdakwah di Desa Rowolaku. Tokoh tersebut konon merupakan salah satu prajurit Mataram yang mengemban tugas di wilayah Pekalongan, kemudian beliau lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Mbak Cakar. Pada suatu ketika mata air Rawa Rinjing keluar meluap-luap tiada henti hingga membanjiri sebagian wilayah Desa Rowolaku sehingga menjadi seperti danau. Berbagai macam ikan yang biasa hidup diperairan laut bermunculan di danau tersebut. Dikhawatirkan jika air terus menerus keluar maka wilayah Desa Rowolaku akan tenggelam menjadi lautan. Singkat cerita Mbah Cakar dan sesepuh utama (Mbah Rowo) menutup/menyumpal sumber mata air rawa tersebut dengan kepala kerbau dan rerumputan sehingga air rawa tidak lagi keluar sehingga lama kelamaan rawa tersebut menghilang. Oleh karena itu kemudian wilayah ini dinamai Desa Rowolaku. Adapun petilasan dari Mbah Cakar sampai sekarang masih dirawat dan dipelihara oleh masyarakat setempat dan masih sering dikunjungi oleh warga guna mendoakannya. Kepala Desa pertama Desa Rowolaku yaitu Mbah Sarenggan.